tentang ci(n)ta, (r)asa, dan (ken)angan

“Aku rindu masa itu.

Satu tahun untukku. Dua tahun untukmu. Tiga tahun untuknya. Dan sekian tahun untuk selain dari kita.”

Dulu kita sama, merasa nyaman berada disana. Sekarang pun kita tetap sama, menjadi seorang mahasiswa. Aku sebut dulu itu sebagai kesempurnaan masa lalu. Masa di mana perasaan kontra dengan logika. Tak ada batasan mengenai selera, tapi sering kali kita memperdebatkannya.

Dulu kita sibuk bermimpi, berlomba untuk jadi yang tertinggi. Sampai kita mungkin lupa bahwa tingkatan superlative hanya akan ada satu nantinya, sedang yang lain akan menjadi sebuah pembanding, comparative.

Waktu terus berlalu, berusaha menggapai garis finisnya. Waktu juga mungkin lelah, tapi ia tidak menyerah. Hingga akhirnya kita pun sampai pada suatu titik impas, yang bebas dan lepas. Kita sampai di suatu garis yang mengantarkan kita pada abu yang semakin nyata, yakni pilihan.

“Memperjuangkan cita atau mempertahankan cinta?

Merajut asa atau menjaga rasa yang telah sama?

Berlari mengejar angan atau diam dalam sebuah kenangan?”

Hidup adalah sebuah pilihan. Menjadi hitam atau putih itu kita yang menentukan. Pilihan kita bisa jadi beda. Tapi tujuan kita tetap sama, bahagia, kan? Pertanyaanna: Apakah kita sudah sampai di tujuan akhir kita?Entahlah, aku bahkan tidak punya jawaban atas pertanyaanku sendiri. Yang aku tahu konsep kebahagiaan itu relatif subjektif. Dan bagiku bahagia itu bukan tentang angka, melainkan harga yang tak terhingga.

Sekarang kita semua sudah pada porsinya masing-masing.

Saatnya memainkan peran…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s