The most I love

Ada harga yang tak terhingga
Untuk habiskan waktu bersama
Ada rasa yang tak pernah beda
Yakni kehangatan selamanya
Ada nama yang mewakili mereka
Adalah keluarga.

Keluarga. Tempat bersandar untuk melepas segala beban. Tempat terlelap untuk melepas segala penat. Pun tempat terbaik untuk berkehidupan.

Setidaknya untukku, seorang mahasiswi yang sangat family-oriented seperti aku. Aku bukan seorang yang vokal di keluargaku, tapi suaraku juga tidaklah konsonan. Aku tidak biasa menyuarakan kasih sayangku pada mereka. Tapi aku yakin mereka merasakannya. Aku sayang seluruh keluargaku, dan aku yakin kalian pun begitu, kan?

Tapi pernah kah kalian merasa lebih ingin bersama teman dibanding keluarga kalian? Pergi keluar untuk sekedar melihat dan merasakan suasana baru? Jika ya, berarti kita sama. Lalu apa yang kalian rasakan setelahnya? Senang? Bahagia? Atau apa? Ah apapun itu pasti sangat menyenangkan, ya?

Apa kalian pernah dengar tentang kesenangan sesaat? Jujur aku takut perasaan itulah yang sebenarnya kita rasakan ketika kita mengesampingkan keluarga kita. Tidak, aku tidak sedang membangun citra di sini, aku hanya mengira-ngira. Lagipula memang tidak ada salahnya jika kita bahagia dengan teman-teman kita. Yang tidak boleh adalah sampai melupakan keluarga. Kenapa? Karena keluargalah yang akan selalu ada untuk kita, sampai selamanya.

Dalam diam, aku menyayangi mereka.
Dalam doa, aku utamakan mereka.
Dalam hati, aku jaga mereka.
Dalam hidup, aku membutuhkan mereka.
Mereka, adalah keluarga.

There’s nothing in between these things

Hai. Aku kembali lagi, untuk bercerita lagi. Ya, lagi-lagi aku mengadu. Maaf karena aku tak cukup berani untuk melantangkan ini.

Aku seorang yang menyukai kebebasan, dan tak terlalu menyukai keterikatan (kecuali dalam sebuah hubungan, just like what every girl want in every their relationship lol). Tapi belakangan aku tertantang untuk menjadi seorang yang sibuk. Mungkin untuk mereka yang sudah biasa melakukannya, ini belum lah seberapa, tapi untuk seorang aku, ini cukup melelahkan. But well there’s nothing in between being too busy and too gabut, they both are make me tired (hell yeah i’m that weak).

Aku senang menjadi aku yang sekarang. Tapi aku seperti kehilangan the half-old-me dan aku… Berubah.

Entah mana yang harus aku pertahankan. Rasanya aku ingin menggabungan the now & old me so then will born the new me. Cause i don’t wanna lose this chance, and also i miss the old me. Hopefully everything will be great, as my wish and my dream, aamiin… :)

Doa kami, dini hari.

Dari pagi hingga mentari menyapa lagi, kami di sini. Berkumpul, merumuskan apa yang akan kami lakukan. Terlihat seperti tanpa beban dan keluh kesah, padahal kami menyimpan lelah yang tanpa arah.

Perlahan semuanya berubah. Satu tahap telah kamui lalui, tinggal beberapa lagi. Semoga semua sesuai dengan keyakinan kami, yakni sukses tanpa cela, lagi.

Amin.

Waktu itu, masa lalu

Aku ingat waktu itu, saat pertama kali kita bertemu. Tak ada yang aku pikirkan tentangmu, kecuali sikap dan perangaimu yang santun itu.

Aku juga ingat waktu itu, kita sepakat untuk mengenal satu sama lain. Sebelum akhirnya kita juga sepakat untuk melupakan satu dan lain hal diantara kita.

Dan aku masih ingat waktu itu, saat kita kembali merajut asa. Berharap akhir cerita kita akan lebih bahagia dibanding sebelumnya. Namun nyatanya tetap saja, kita tak bisa berasama.

Dan kini, aku ingin kembali ke waktu itu, mengingat masa lalu.

Do You See What I’ve Done?

Do you see what i’ve done?
Aku menggebu, dulu. Menjadi bagian dari kalian adalah suatu yang sudah aku rencanakan. Semua berjalan sesuai rancangan ceritaku, menyenangkan. Sampai aku tiba di titik ini, titik yang membuatku jenuh dengan semua ini.

Do you see what i’ve done?
Kau memberi kami perintah tanpa bersikap seperti pemerintah. Tapi aku tetap tidak menyukainya. Aku tidak suka berada di bawah perintah. Hingga akhirnya justru aku yang berhasil menaklukan perintahmu itu. Ya, aku sukses menjalankan semuanya. Lagi-lagi, sesuai dengan skenario. Sayang itu tidak bertahan lama.

Do you see what i’ve done?
Lama aku berjuang bersama kalian. Lalu selamanya kalian tinggalkanku sendirian. Kau menyuruhku maju, kemudian kau mundur berarturan. Aku lelah, ingin rasanya menyerah. Tapi tetiba kau datang dengan penuh kemurkaan. Kau menyalahkanku atas semua kekeliruanku. Kau memarahiku atas semua jerih payahku. Kau mengkhianati pengorbananku.

Do you see what i’ve done?
Kini ku biarkan kalian berjalan sendiri. Bukan berlandaskan dendam, hanya ingin berbagi pengalaman. Kita sama-sama sendiri sekarang, tapi tetap saja kita tidak sama. Kalian meneruskan langkah, sementara aku memutar arah.

Do you see what i’ve done?
Jika aku bisa meramalkan masa depan, sungguh aku tidak akan memperjuangkan hal ini dari dulu. Biar aku menjadi rakyat biasa saja, yang biasa-biasa saja.

At last, for all i’ve done, all my mistakes, i’m blaming you.