Tentang aku dan seorang assertive

Halo. Hari ini kesibukanku masih sama seperti hari-hari sebelumnya, rapat, kuliah, rapat, sampai akhirnya menikmati kemacetan jalanan demi sebuah tempat bernama rumah.

Ya, aku masih terikat pada sebuah proyek yang mengharuskanku mengikuti rapat setiap harinya. And like what i said on my previous post, aku bukan orang yang suka atau terbiasa melakukan rutinitas ini, tapi saat inilah aku belajar ego defense mechanism.

Beberapa hari lalu, agenda rapat kami adalah penetapan steering commitee, dan terjadi sebuah drama diantara kami. Adalah X, seorang yang selalu memberikan nama untuk setiap jabatan yang ia rasa cocok. Lalu sampailah pada satu jabatan CFO yang fokus pada pengelolaan financial. Hampir semua temanku mengusulkan aku untuk mengisi posisi itu. Aku pun senang dengan tawaran itu. Namun kemudian X berkata bahwa dia adalah komisaris yang tidak akan membiarkan aku untuk ada di posisi itu.

Hening pun tercipta untuk saat yang cukup lama…

Temanku akhirnya menanyakan alasan atas pernyataan X, dan dia menjawab dia ingin aku ada di posisi hrd. Kenapa? Karena menurutnya, aku adalah satu-satunya orang dalam peserta rapat yang berani melawan dan menentang X.

Entah aku harus senang atau bangga, tapi yang jelas aku malah takut dan berpikir keras. Aku memutar otakku, berpikir apa yang melatarbelakangi X hingga bisa berpendapat seperti itu. Apa dia memperhatikanku? Atau memang sikapku yang sudah sangat keterlaluan sampai-sampai dia notice pada keberadaanku?

Entahlah, yang jelas, dari semua orang assertiv yang meragukan kemampuanku, dengan tegas kamu memilih untuk percaya padaku.

Terima kasih, X.

The most I love

Ada harga yang tak terhingga
Untuk habiskan waktu bersama
Ada rasa yang tak pernah beda
Yakni kehangatan selamanya
Ada nama yang mewakili mereka
Adalah keluarga.

Keluarga. Tempat bersandar untuk melepas segala beban. Tempat terlelap untuk melepas segala penat. Pun tempat terbaik untuk berkehidupan.

Setidaknya untukku, seorang mahasiswi yang sangat family-oriented seperti aku. Aku bukan seorang yang vokal di keluargaku, tapi suaraku juga tidaklah konsonan. Aku tidak biasa menyuarakan kasih sayangku pada mereka. Tapi aku yakin mereka merasakannya. Aku sayang seluruh keluargaku, dan aku yakin kalian pun begitu, kan?

Tapi pernah kah kalian merasa lebih ingin bersama teman dibanding keluarga kalian? Pergi keluar untuk sekedar melihat dan merasakan suasana baru? Jika ya, berarti kita sama. Lalu apa yang kalian rasakan setelahnya? Senang? Bahagia? Atau apa? Ah apapun itu pasti sangat menyenangkan, ya?

Apa kalian pernah dengar tentang kesenangan sesaat? Jujur aku takut perasaan itulah yang sebenarnya kita rasakan ketika kita mengesampingkan keluarga kita. Tidak, aku tidak sedang membangun citra di sini, aku hanya mengira-ngira. Lagipula memang tidak ada salahnya jika kita bahagia dengan teman-teman kita. Yang tidak boleh adalah sampai melupakan keluarga. Kenapa? Karena keluargalah yang akan selalu ada untuk kita, sampai selamanya.

Dalam diam, aku menyayangi mereka.
Dalam doa, aku utamakan mereka.
Dalam hati, aku jaga mereka.
Dalam hidup, aku membutuhkan mereka.
Mereka, adalah keluarga.

There’s nothing in between these things

Hai. Aku kembali lagi, untuk bercerita lagi. Ya, lagi-lagi aku mengadu. Maaf karena aku tak cukup berani untuk melantangkan ini.

Aku seorang yang menyukai kebebasan, dan tak terlalu menyukai keterikatan (kecuali dalam sebuah hubungan, just like what every girl want in every their relationship lol). Tapi belakangan aku tertantang untuk menjadi seorang yang sibuk. Mungkin untuk mereka yang sudah biasa melakukannya, ini belum lah seberapa, tapi untuk seorang aku, ini cukup melelahkan. But well there’s nothing in between being too busy and too gabut, they both are make me tired (hell yeah i’m that weak).

Aku senang menjadi aku yang sekarang. Tapi aku seperti kehilangan the half-old-me dan aku… Berubah.

Entah mana yang harus aku pertahankan. Rasanya aku ingin menggabungan the now & old me so then will born the new me. Cause i don’t wanna lose this chance, and also i miss the old me. Hopefully everything will be great, as my wish and my dream, aamiin… :)

Doa kami, dini hari.

Dari pagi hingga mentari menyapa lagi, kami di sini. Berkumpul, merumuskan apa yang akan kami lakukan. Terlihat seperti tanpa beban dan keluh kesah, padahal kami menyimpan lelah yang tanpa arah.

Perlahan semuanya berubah. Satu tahap telah kamui lalui, tinggal beberapa lagi. Semoga semua sesuai dengan keyakinan kami, yakni sukses tanpa cela, lagi.

Amin.

Waktu itu, masa lalu

Aku ingat waktu itu, saat pertama kali kita bertemu. Tak ada yang aku pikirkan tentangmu, kecuali sikap dan perangaimu yang santun itu.

Aku juga ingat waktu itu, kita sepakat untuk mengenal satu sama lain. Sebelum akhirnya kita juga sepakat untuk melupakan satu dan lain hal diantara kita.

Dan aku masih ingat waktu itu, saat kita kembali merajut asa. Berharap akhir cerita kita akan lebih bahagia dibanding sebelumnya. Namun nyatanya tetap saja, kita tak bisa berasama.

Dan kini, aku ingin kembali ke waktu itu, mengingat masa lalu.